Kolaborasi regulator, pakar teknologi kesehatan, dan para direktur rumah sakit mempercepat transformasi digital layanan kesehatan nasional

Bali, 7 April 2026 — Transformasi digital di sektor kesehatan Indonesia terus menunjukkan perkembangan yang signifikan. Hal tersebut tercermin dalam penyelenggaraan Forum Pelayanan Kesehatan Daerah (Foryankes) 2026 yang digelar di Wisma Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali. Forum yang mengangkat tema “Perencanaan Pengembangan dan Pembiayaan serta Monitoring dan Evaluasi Penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) Smart Hospital” ini menjadi ruang strategis bagi para pemangku kepentingan untuk menyelaraskan arah pengembangan layanan kesehatan berbasis teknologi di Indonesia.
Kegiatan ini menghadirkan berbagai narasumber dari tingkat nasional hingga daerah, di antaranya Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Presiden Perkumpulan Teknik Perumahsakitan Indonesia (PTPI), Prof. Ir. Dr.-Ing. Eko Supriyanto IPU, P.H.Eng., Eko Sulistijo, S.H., M.T., Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, serta Donny Purnomo, SJ., Deputi Bidang Akreditasi Badan Standardisasi Nasional (BSN). Forum ini juga dihadiri oleh para direktur rumah sakit dari berbagai wilayah di Bali.
Forum Strategis untuk Transformasi Digital Rumah Sakit

Foryankes Daerah 2026 tidak sekadar menjadi forum diskusi formal, melainkan wadah kolaborasi antara pemerintah, regulator, praktisi kesehatan, serta pelaku teknologi kesehatan.
Melalui format seminar dan Focus Group Discussion (FGD), para peserta membahas berbagai isu strategis terkait implementasi smart hospital, di antaranya:
• Perencanaan pengembangan rumah sakit berbasis digital
• Model pembiayaan implementasi smart hospital
• Monitoring dan evaluasi penerapan standar SNI
• Integrasi sistem informasi kesehatan dengan ekosistem nasional
Diskusi tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital layanan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga membutuhkan tata kelola organisasi yang matang, kesiapan sumber daya manusia, serta dukungan kebijakan dan regulasi yang kuat.
Konsep Smart Hospital: Integrasi Sistem Fisik, Digital, dan Manajemen
Dalam paparannya, Prof. Dr.-Ing. Eko Supriyanto, IPU, ASEAN Eng. menjelaskan bahwa konsep Smart Hospital merupakan integrasi antara berbagai sistem yang mendukung operasional rumah sakit secara menyeluruh.
Menurut Prof. Eko, smart hospital dibangun di atas tiga pilar utama sistem yang saling terhubung, yaitu Sistem Fisik Nyata, Sistem Fisik Maya, serta Sistem Manajemen Organisasi.
Sistem Fisik Nyata (SFN)
Sistem ini mencakup seluruh komponen fisik yang digunakan dalam operasional rumah sakit, seperti sarana, prasarana, serta berbagai peralatan medis dan alat kesehatan.
Dalam konsep smart hospital, komponen tersebut terhubung dengan sistem digital melalui mekanisme data dan kontrol, sehingga memungkinkan pemantauan dan pengelolaan fasilitas secara lebih efektif.
Sistem Fisik Maya (SFM)
Lapisan ini merupakan inti dari transformasi digital rumah sakit yang terdiri dari berbagai sistem teknologi, antara lain:
• Sistem akuisisi data
• Sistem komunikasi dan jaringan
• Sistem platform data dan integrasi
• Infrastruktur penyimpanan data
• Sistem analitik dan kecerdasan buatan
• Sistem antarmuka pengguna dan penyajian informasi
• Sistem pengendalian, otomasi, dan robotik
Seluruh sistem tersebut berada dalam perlindungan lapisan keamanan siber untuk menjaga kerahasiaan dan integritas data kesehatan.
Sistem Manajemen Organisasi (SMO)
Pilar ketiga adalah sistem manajemen yang memastikan seluruh teknologi dan proses operasional rumah sakit berjalan secara efektif.
Sistem ini meliputi:
• Manajemen pelayanan pasien
• Manajemen sumber daya manusia
• Pengelolaan aset
• Manajemen keuangan
• Manajemen korporasi
• Manajemen jejaring layanan kesehatan
Ketiga sistem tersebut bekerja secara terintegrasi untuk menciptakan layanan kesehatan yang lebih efisien dan berbasis data.
Peran SDM sebagai Fondasi Smart Hospital

Selain teknologi dan sistem manajemen, sumber daya manusia (SDM) menjadi fondasi utama dalam implementasi smart hospital.
Menurut Prof. Eko, transformasi digital membutuhkan dukungan dari berbagai peran strategis di rumah sakit, seperti CIO (Chief Information Officer), CMIO (Chief Medical Information Officer), manajemen unit teknologi informasi, hingga spesialis teknologi data dan sistem.
Tanpa kesiapan SDM yang kompeten dan adaptif, teknologi yang diterapkan tidak akan memberikan dampak maksimal terhadap peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.
Dampak Nyata Digitalisasi Rumah Sakit
Digitalisasi layanan kesehatan memberikan berbagai manfaat yang semakin nyata bagi operasional rumah sakit, antara lain:
• Pelayanan pasien lebih cepat dan efisien karena data medis dapat diakses secara real-time
• Data klinis dan administratif lebih akurat, sehingga meminimalkan kesalahan pencatatan manual
• Integrasi layanan antar unit, dari pendaftaran hingga pelayanan rawat inap
• Pengambilan keputusan berbasis data bagi manajemen rumah sakit
Dalam konteks ini, Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) menjadi tulang punggung integrasi layanan kesehatan modern yang berorientasi pada kebutuhan pasien.
Menuju Layanan Kesehatan yang Lebih Cerdas
Forum Foryankes Daerah 2026 menjadi momentum penting dalam perjalanan transformasi digital layanan kesehatan di Indonesia.
Dengan hadirnya Standar Nasional Indonesia (SNI) Smart Hospital, fasilitas kesehatan kini memiliki panduan yang lebih jelas dalam mengembangkan sistem layanan yang terintegrasi, efisien, dan berorientasi pada pasien.
Transformasi digital rumah sakit bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan strategis untuk menjawab tantangan layanan kesehatan di era digital.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, regulator, rumah sakit, serta pelaku teknologi kesehatan, diharapkan ekosistem smart hospital di Indonesia dapat berkembang lebih cepat dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
