Belajar dari Rumah Sakit di Malaysia: Insight untuk Pengembangan Layanan Digital Inovamedika

Kategori

Arsip

Melalui kunjungan akademik ke Prince Court Medical Centre dan Sunway Medical Centre, Fita Loka Nuraini memperdalam pemahaman tentang teknologi, proses layanan, dan pengalaman pasien.

Pada 3–5 Agustus 2026, Fita Loka Nuraini, A.Md., RMIK., S.ST., MIK., Marketing Manager Inovamedika, mengikuti kegiatan hospital visit ke Malaysia bersama rombongan Universitas Islam Bandung (UNISBA). Fita tengah menempuh pendidikan pada Program Magister Manajemen dengan konsentrasi Manajemen Rumah Sakit melalui program beasiswa dari Inovamedika.

Kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran akademik untuk melihat secara langsung bagaimana rumah sakit di Malaysia mengelola layanan, teknologi, dan pengalaman pasien. Bagi Fita, kunjungan ini juga menjadi kesempatan untuk membawa perspektif yang diperoleh dari lapangan ke dalam konteks transformasi digital rumah sakit di Indonesia.

Dua rumah sakit menjadi tujuan kunjungan, yaitu Prince Court Medical Centre di Kuala Lumpur dan Sunway Medical Centre di Bandar Sunway, Selangor. Keduanya memberikan pengalaman yang berbeda, bukan hanya dari teknologi yang digunakan, tetapi juga dari cara rumah sakit merancang layanan, mengelola proses, dan membangun pengalaman pasien.

Melihat Lebih Dekat Bagaimana Rumah Sakit Melayani Pasien

Kunjungan ke Prince Court Medical Centre, Kuala Lumpur, diawali dengan penyambutan dan pemaparan dari pihak manajemen rumah sakit. Dr. Siva Perumal, yang menjabat sebagai Deputy Medical Director sekaligus Consultant Emergency Physician, memberikan penjelasan mengenai profil, layanan, serta berbagai aspek pelayanan di Prince Court.

Setelah sesi pemaparan, peserta kemudian dibagi dalam beberapa kelompok untuk melakukan visitasi ke sejumlah unit rumah sakit. Salah satu area yang menarik perhatian adalah rawat inap dengan konsep single-bed room. Peserta dapat melihat secara langsung bagaimana kenyamanan pasien dan keluarga diperhatikan melalui desain kamar, tata ruang, serta fasilitas pendukung.

Di sejumlah area yang dikunjungi, peserta melihat penggunaan teknologi berdampingan dengan dokumen fisik dalam proses administratif. Pengamatan terbatas ini menjadi bahan diskusi mengenai hubungan antara kebutuhan operasional, alur kerja, dan penerapan sistem digital.

Peserta juga menggali informasi mengenai arsitektur teknologi informasi, integrasi data, dan pendekatan pengukuran kematangan digital rumah sakit, termasuk HIMSS EMRAM, model penilaian kematangan penggunaan rekam medis elektronik. Karena sesi kunjungan lebih berfokus pada profil dan pengelolaan layanan, aspek teknis tersebut belum dibahas secara mendalam. Pengalaman ini menegaskan pentingnya melibatkan perspektif manajemen, pelayanan, dan teknologi informasi untuk memperoleh gambaran transformasi digital rumah sakit secara utuh.

Dari Teknologi hingga Layanan Digital di Sunway

Pengalaman berikutnya berlangsung di Sunway Medical Centre, Bandar Sunway, Selangor. Peserta disambut oleh Dato’ Lau Beng Long, Presiden Sunway Healthcare Group, sebelum menerima pemaparan mengenai layanan dan ekosistem Sunway.

Setelah sesi pemaparan, peserta melakukan visitasi ke berbagai unit rumah sakit. Salah satu hal yang menarik perhatian adalah penerapan robotic pharmacy, khususnya OPAS (Outpatient Pharmacy Automation System), yang membantu mengotomatisasi proses penyiapan dan penyerahan obat untuk mendukung kecepatan dan ketepatan layanan.

Selain itu, peserta juga melihat bagaimana telemedicine dikembangkan sebagai bagian dari akses layanan, termasuk melalui Telemedicine Command Centre. Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana rumah sakit dapat menjangkau pasien bahkan sebelum mereka datang secara langsung.

Bagi rumah sakit di Indonesia, otomasi farmasi dan telemedicine dapat menjadi bagian dari penguatan layanan, dengan penerapan yang disesuaikan dengan regulasi, kesiapan infrastruktur, kebutuhan klinis, dan kemampuan masing-masing rumah sakit.

Rumah Sakit Bukan Sekadar Tempat Berobat

Hal lain yang menarik dari Sunway adalah bagaimana rumah sakit ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem yang lebih luas. Sunway City mengintegrasikan layanan kesehatan dengan pendidikan, hospitality, retail, lifestyle, dan berbagai fasilitas pendukung lainnya.

Perspektif ini memperlihatkan bahwa pengalaman pasien tidak hanya dibentuk ketika seseorang berada di ruang pemeriksaan. Mulai dari akses, komunikasi, proses pelayanan, hingga lingkungan sekitar dapat menjadi bagian dari patient journey.

Pendekatan tersebut juga terlihat dalam layanan pasien internasional. Prince Court memiliki layanan eHealthChat, sementara Sunway mengembangkan Telemedicine Command Centre dan International Patient Centre untuk membantu pasien memperoleh akses dan koordinasi layanan bahkan sebelum datang ke rumah sakit.

Hal tersebut memberikan perspektif bahwa smart hospital bukan sekadar tentang teknologi yang semakin canggih, tetapi bagaimana teknologi digunakan untuk membuat perjalanan pasien menjadi lebih terarah dan terhubung.

Insight yang Dibawa Pulang

Dari dua kunjungan tersebut, salah satu pembelajaran paling kuat bagi Fita adalah bahwa transformasi rumah sakit tidak dapat dilihat hanya dari seberapa banyak teknologi yang digunakan.

Rumah sakit perlu membangun keseimbangan antara teknologi, proses, SDM, governance, infrastruktur, dan pengalaman pasien. Bahkan rumah sakit dengan fasilitas yang sangat baik masih dapat memiliki area yang perlu diperkuat dalam digitalisasi.

Karena itu, benchmarking tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan “teknologi apa yang digunakan rumah sakit lain?”, tetapi berkembang menjadi “masalah apa yang ingin diselesaikan, bagaimana prosesnya, dan apakah pendekatan tersebut relevan dengan kebutuhan rumah sakit di Indonesia?”

“Kunjungan ini membuat saya melihat bahwa transformasi digital rumah sakit tidak cukup dinilai dari banyaknya teknologi yang digunakan. Kita juga harus memahami masalah yang ingin diselesaikan, kesiapan penggunanya, dan dampaknya terhadap perjalanan pasien,” ujar Fita.

Insight dari kunjungan ini juga dibawa Fita ke forum internal Bincang Supervisi pada 12 Agustus 2026 dalam sesi bertajuk “Critical Thinking: Belajar dari yang Terbaik Tanpa Kehilangan Jati Diri.” Sesi dibuka dengan menonton sejumlah referensi inovasi dari Prince Court Medical Centre, Sunway Healthcare Group, hingga sistem otomasi farmasi IPAS dan OPAS, sebelum masuk ke pertanyaan reflektif: “Kalau mereka bisa melakukan itu, apa yang bisa kita pelajari dan terapkan di Indonesia?”

Dalam forum tersebut, Fita mengajak tim Inovamedika, yang dikenal sebagai Inovers, untuk memperluas acuan pembelajaran, mempertanyakan cara kerja yang dapat diperbaiki, dan menilai pekerjaan dari dampaknya. Ia menekankan bahwa penerapan teknologi perlu disertai pembangunan pola pikir dan budaya kerja yang mendukung perubahan.

Dari Insight Menjadi Inspirasi Pengembangan di Inovamedika

Pembelajaran dari kunjungan tersebut kemudian tidak berhenti sebagai pengalaman akademik. Setelah kembali, insight yang diperoleh dibahas bersama tim Development, Research and Development (R&D), serta Project Inovamedika untuk mengidentifikasi peluang pengembangan maupun usulan perbaikan yang relevan dengan kebutuhan rumah sakit di Indonesia.

Salah satu area yang dibahas adalah optimalisasi pengelolaan stok dan alur pelayanan farmasi melalui sistem informasi, termasuk kemungkinan integrasi dengan perangkat otomasi apabila sesuai dengan kebutuhan rumah sakit.

Tim juga mulai mengkaji konsep command center untuk mendukung akses informasi, penjadwalan dokter, koordinasi layanan, dan komunikasi dengan pasien. Salah satu peluang yang dipertimbangkan adalah pemanfaatan Nova AI untuk layanan informasi dan interaksi awal pasien. Konsultasi serta keputusan klinis tetap dilakukan oleh tenaga kesehatan yang berwenang.

Dengan demikian, hasil hospital visit tidak hanya menjadi wawasan personal bagi peserta, tetapi juga menjadi masukan untuk melihat bagaimana solusi digital dapat terus dikembangkan agar semakin relevan dengan kebutuhan rumah sakit di Indonesia.

Pembelajaran Bersama dari Lingkungan Akademik

Kegiatan Hospital Visit ini merupakan bagian dari proses pembelajaran dalam Program Magister Manajemen konsentrasi Manajemen Rumah Sakit UNISBA dan didampingi oleh:

  • Dr. Dede R. Oktini, S.E., M.P. — Ketua Program Studi Magister Manajemen
  • Dr. Rabiatul Adwiyah, S.E., M.Si.
  • Dr. Septiana Ayu Estri Mahani, S.E., M.M.
  • Dr. dr. Albertus I. Hendarta, MPH.

Pendampingan akademik tersebut turut memberikan perspektif dalam melihat transformasi rumah sakit tidak hanya dari sisi teknologi, tetapi juga manajemen, pelayanan, dan keberlanjutan organisasi.

Dukungan pendidikan bagi karyawan membuka kesempatan bagi Inovamedika untuk mempertemukan pembelajaran akademik dengan kebutuhan pengembangan layanan. Melalui berbagi pengetahuan dan diskusi lintas tim, pengalaman dari kunjungan ini menjadi bahan untuk memahami alur pelayanan rumah sakit serta menilai peluang perbaikan solusi digital bagi rumah sakit di Indonesia.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan Hospital Visit ini:

• Tourism Malaysia
• Tourism Selangor
• HCM Excellence — Healthcare Management Consulting Services
• EXODUS — Leisure-Golf-MICE

Bagikan artikel: