
Digital healthcare di rumah sakit tidak hanya bergantung pada kecanggihan sistem informasi. Di balik proses integrasi dengan BPJS Kesehatan dan SATUSEHAT, masih banyak fasilitas pelayanan kesehatan yang menghadapi kendala akibat kualitas data yang belum optimal.
Nomor rekam medis ganda, kesalahan penulisan Nomor Induk Kependudukan (NIK), hingga data dokter dan poli yang tidak diperbarui menjadi beberapa persoalan yang masih sering ditemukan dalam proses integrasi. Dampaknya tidak hanya menghambat pertukaran data, tetapi juga berpotensi menyebabkan antrean layanan terganggu, klaim BPJS tertunda, hingga meningkatkan risiko temuan saat audit.
Isu tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam webinar Digital Health Readiness Series bertema “BPJS Ready Hospital: Rahasia Data Hygiene untuk Integrasi Lancar dan Lolos Audit” yang disampaikan oleh Bapak Kuswanto.
Dalam paparannya, Bapak Kuswanto menegaskan bahwa banyak rumah sakit masih berfokus pada pembangunan infrastruktur digital, tetapi belum memberikan perhatian yang sama terhadap kualitas data yang dihasilkan setiap hari.
“Data hygiene bukan hanya tanggung jawab tim IT atau petugas rekam medis. Seluruh proses pelayanan memiliki peran dalam menghasilkan data yang berkualitas. Jika data yang masuk sudah salah, maka proses berikutnya juga akan ikut bermasalah,” jelas Bapak Kuswanto.
Data Menjadi Faktor Penentu Keberhasilan Integrasi
Perkembangan layanan digital membuat proses pertukaran data antarplatform berlangsung secara real-time. Sistem seperti V-Claim, Antrean Online, Mobile JKN, Aplicare, hingga SATUSEHAT saling bergantung pada kualitas data yang dikirimkan oleh rumah sakit.
Satu kesalahan pada data dasar pasien dapat menimbulkan dampak berantai. Misalnya, NIK yang tidak sesuai dapat menyebabkan proses penerbitan Surat Eligibilitas Peserta (SEP) gagal. Di sisi lain, data poli atau jadwal dokter yang belum diperbarui berpotensi membuat layanan antrean online tidak dapat digunakan oleh pasien.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam webinar, lebih dari 1.300 rumah sakit di Indonesia masih belum memenuhi kepatuhan pengiriman data ke SATUSEHAT — sejalan dengan kewajiban interoperabilitas yang diamanatkan Permenkes Nomor 24 Tahun 2022 dan prinsip perlindungan data dalam UU Nomor 27 Tahun 2022 tentang PDP. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan digital healthcare tidak lagi hanya berkaitan dengan implementasi aplikasi, tetapi juga kesiapan organisasi dalam menjaga kualitas data.
Kesalahan Data Dapat Memengaruhi Keputusan Manajemen
Selain berdampak terhadap pelayanan, kualitas data juga berpengaruh pada proses pengambilan keputusan di tingkat manajemen.
Bapak Kuswanto mencontohkan kondisi ketika rumah sakit berencana menambah jumlah dokter spesialis karena melihat tingginya antrean pasien. Namun setelah dilakukan evaluasi terhadap data kunjungan, penyebab utama bukanlah kekurangan tenaga medis, melainkan adanya data yang tidak konsisten dan distribusi jadwal pelayanan yang kurang optimal.
Menurutnya, keputusan strategis akan lebih tepat apabila didasarkan pada data yang akurat, lengkap, dan telah melalui proses validasi.
“Rumah sakit saat ini tidak cukup hanya mengumpulkan data. Yang jauh lebih penting adalah memastikan data tersebut benar sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan,” ujarnya.
Data Hygiene Perlu Menjadi Budaya Organisasi
Dalam sesi diskusi, peserta webinar juga banyak membagikan pengalaman mengenai kendala yang masih dihadapi dalam implementasi integrasi BPJS, mulai dari data pasien ganda, ketidaksesuaian referensi poli, hingga proses validasi yang memerlukan waktu cukup panjang.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kualitas data tidak dapat dijaga oleh satu unit kerja saja. Proses verifikasi identitas pasien di loket pendaftaran, pengisian rekam medis oleh tenaga kesehatan, validasi oleh unit rekam medis, hingga monitoring yang dilakukan tim teknologi informasi merupakan satu rangkaian yang saling berkaitan.
Menurut Bapak Kuswanto, membangun budaya data hygiene jauh lebih efektif dibandingkan memperbaiki data ketika proses audit atau klaim telah berlangsung.
Pengalaman Implementasi Menunjukkan Data Menjadi Tantangan Utama
Tantangan terbesar yang dihadapi rumah sakit bukan berasal dari teknologi, melainkan dari tata kelola data. Karena itu, proses implementasi tidak hanya berfokus pada pemasangan sistem informasi, tetapi juga mencakup pendampingan dalam penyusunan standar data, validasi master data, penyelarasan proses bisnis, serta monitoring pasca-implementasi agar kualitas data tetap terjaga secara berkelanjutan.
Pendekatan tersebut dinilai penting mengingat kualitas data saat ini telah menjadi salah satu indikator keberhasilan integrasi layanan digital sekaligus mendukung kesiapan rumah sakit dalam menghadapi regulasi, audit, dan pengembangan ekosistem kesehatan nasional.
Peran Inovamedika dalam Membangun Budaya Data Hygiene
Melalui pengalaman mendampingi implementasi SIMRS, integrasi BPJS dan SATUSEHAT, hingga penyusunan roadmap digitalisasi layanan di berbagai rumah sakit, Inovamedika melihat bahwa tantangan terbesar bukan lagi pada pemilihan teknologi, melainkan pada kesiapan tata kelola, sumber daya manusia, dan konsistensi kualitas data yang mendukung keberlangsungan layanan. Pendampingan yang diberikan mencakup penyusunan standar data, validasi master data, hingga monitoring berkelanjutan agar rumah sakit tetap siap menghadapi audit dan klaim kapan pun dibutuhkan.
Di tengah semakin berkembangnya digital healthcare, kualitas data tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan administratif semata. Data yang akurat, konsisten, dan tervalidasi menjadi fondasi penting agar pelayanan kepada pasien dapat berjalan lebih efektif, keputusan manajemen lebih tepat, serta integrasi dengan berbagai platform kesehatan nasional berlangsung secara optimal.